Alat tes psikologi harus memiliki validitas dan realibilitas. Validitas merupakan aspek yang menunjukkan tingkat sebuah alat tes dapat mengukur variabel yang ingin diukur (Gravetter & Forzano, 2012). Hal ini bertujuan agar menghindari penyimpangan alat tes yang tidak sesuai dengan fungsinya, yang dapat menyebabkan alat ukur tersebut tidak mengukur dengan baik. Salah satu cara untuk menguji validitas adalah dengan melakukan expert judgement. Expert judgment adalah penilaian suatu alat ukur yang dilakukan oleh orang yang ahli di bidang alat ukur yang ingin diujikan.
Realibilitas merupakan aspek yang menunjukkan tingkat kekonsistenan dalam pengukuran. Jika individu yang sama diukur dengan kondisi yang sama, dengan alat ukur yang bisa dipercaya maka akan menghasilkan hasil yang mirip atau sama (Gravetter & Forzano, 2012). Salah satu cara untuk mengukur realibilitas adalah dengan melakukan pilot test. Pilot test adalah tes uji coba (sample test) yang diberikan pada beberapa individu dengan jumlah tertentu.
Alat tes “psikologi” yang biasa ditemukan di majalah, internet atau media lainnya sering kali tidak melalui proses uji validitas dan realibilitas terlebih dahulu, oleh karena itu ada baiknya untuk tidak menggunakan tes “psikologi” yang beredar sebagai acuan untuk menilai seseorang.
Berikut adalah contoh tes “psikologi” yang beredar di internet:
Bayangkan anda berada di sebuah taman bunga yang luas. Ada seekor kupu-kupu terbang di taman itu, apabila ia hinggap di salah satu bunga yang ada di taman, bunga berwarna apakah yang akan ia hinggapi? Apakah putih, kuning atau ungu? Coba bayangkan di benak anda. Hasil dari tes ini, apabila kupu-kupu tersebut hinggap di bunga berwarna putih, berarti anda menyukai lawan jenis (heterosexual). Apabila kupu-kupu tersebut hinggap di bunga berwarna kuning, berarti anda menyukai sesama jenis (homosexual). Apabila kupu-kupu tersebut hinggap di bunga berwarna ungu, berarti anda menyukai baik lawan jenis maupun sesama jenis (bisexual).
Tes “psikologi” yang di atas tidak bisa dijadikan acuan. Pertama, warna memiliki arti yang berbeda-beda di setiap daerah tergantung dengan budaya yang dianut di daerah tersebut. untuk di Indonesia misalnya, warna putih diasumsikan sebagai suci atau warna tulang (sesuai dengan lagu gebyar-gebyar), warna kuning erat kaitannya dengan warna partai politik yang ada di Indonesia dan warna ungu dikaitkan dengan warna janda. Akan tetapi, warna putih bisa diasumsikan dengan salju untuk negara yang memiliki musim salju, begitupun dengan warna lainnya.
Kedua, alat tes di atas bisa menjadi bias apabila seseorang menyukai atau membenci salah satu dari warna yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu putih, kuning dan ungu. Apabila ia menyukai salah satu warna yang disebutkan sebelumnya, ia akan otomatis untuk memilih warna yang ia suka. Sebaliknya, apabila ia tidak menyukai salah satu warna yang disebutkan sebelumnya, ia otomatis tidak akan memilih atau dalam hal ini membayangkan kupu-kupu hinggap di warna yang ia tidak sukai.
Ketiga, bias juga akan terjadi apabila si pemberi tes dalam hal ini orang yang membacakan tes tadi, menggunakan baju atau aksesoris tertentu yang mengandung warna yang disebutkan di atas. Secara otomatis, individu yang membayangkan akan tertuju pada warna baju atau warna aksesoris yang digunakan oleh pemberi tes. Apabila tes ini dibaca dari sebuah majalah, tes ini juga bisa menjadi bias apabila di halaman yang sama, atau halaman sebelumnya terkandung warna-warna yang terkait dengan ketiga warna tadi. Bias lainnya juga bisa terjadi apabila ia menggunakan baju atau aksesoris yang mengandung salah satu dari ketiga warna tadi atau mungkin ketiga-tiganya.
Setelah mengetahui bias-bias yang ada di dalam tes “psikologi” yang beredar, ada baiknya untuk tidak menilai orang berdasarkan hasil tes “psikologi” yang diambil dari majalah, koran atau media lainnya yang tidak melalui uji validitas dan realibilitas. Apabila digunakan hanya sekedar untuk iseng-iseng atau hanya sebatass rasa ingin tahu saja tidak masalah. Asal, jangan terpaut dengan hasil tes dan menjadikannya mutlak sebagai pegangan hidup.
Sincerely Yours,
Kartika Mulyawan.
Comments
Post a Comment