Cinlok di Tempat Kerja

Sebagai manusia, kita bisa mengatur beberapa hal, seperti mau bangun pagi atau tidur lebih awal, tetapi, ada juga hal-hal yang tidak bisa kita atur. Seperti, jatuh cinta. Apabila jatuh cinta bisa di atur, tentu kita bisa memilih kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, serta sosok tempat kita menaruh hati. Namun kita sebenarnya masih bisa mengatur, apakah kita akan membiarkan rasa itu tetap ada dan melanjutkannya ke tahap yang lebih serius, atau membiarkannya tetap ada, namun tidak melanjutkannya ke tahap yang lebih serius.

Cinta bisa tumbuh dimana saja dan kapan saja, yang menjadi masalah adalah motivasinya. Cinta yang tumbuh karena seringnya bertemu, seringnya bersama-sama, sering bertemu karena tugas kelompok bersama atau teman main, sangatlah bisa terjadi, hanya saja tidak semua atas dasar cinta, bisa juga termotivasi hanya karena sering berjumpa. Cinta lokasi atau cinlok semacam ini tidak berarti hanya cinta semu dan bisa putus di tengah jalan. Teungku Wisnu dan Shireen Sungkar adalah contoh cinlok yang bertahan hingga ke jenjang pernikahan dan bahkan saat ini mereka telah memiliki anak. Cinlok tidak menjadi masalah apabila terjadi antara dua orang yang masih lajang atau belum menikah. Namun, hal ini menjadi salah apabila terjadi antara dua orang yang sudah menikah. Karena bukan hanya bisa berakibat pada kehancuran rumah tangga juga bisa berakibat pada kehancuran karir di pekerjaan. Banyak hal yang harus dipikirkan sebelum menjalin hubungan percintaan lebih lanjut. Jangan sampai cinta buta membuat pekerjaan dan hubungan yang lain menjadi hancur. Berikut hal-hal yang bisa diperhatikan ketika kamu sedang menghadapi cinlok.

1. Bukan sekadar pelarian
Pastikan rasa yang kamu rasakan saat ini terjadi bukan sekedar pelarian. Pelarian dari hubungan kamu yang tengah bertengkar dengan pacarmu yang sesungguhnya atau bahkan pelarian karena melihat teman-temanmu asik dengan pacarnya masing-masing lalu kamu ikut-ikutan ingin mencari pacar karena tidak ingin tertinggal dari teman-temanmu yang sudah memiliki pacar juga.

2. Publikasi
Sebelum bercerita ke teman-teman apalagi di bagikan di sosial media, pikirkan secara matang-matang hubungan ini. Jangan sampai hubungan ini hanya memancing gossip yang mempengaruhi produktifitas kerja.

3. Menjadi sorotan
Jangan pamer kemesraan di tempat umum karena akan menjadi sorotan teman yang lain dan jelas akan memengaruhi reputasi kamu. Apalagi jika kemesraan membuat risih orang lain, bukan tidak mungkin orang lain akan ikut mencampuri kehidupan pribadi kamu.

4. Bahan gosip
Cinlok dan berpacaran dengan teman sepermainan atau lingkungan harus pandai mengontrol emosi. Jangan sampai terjadi pertengkaran kalian sampai terlihat dan memperngaruhi hubungan kalian di lingkungan kerja.

5. Risiko putus
Setiap ada permulaan pasti ada akhir. Apakah akhirnya kalian akan menikah atau putus. Jangan sampai kalian putus lalu mengganggu dan mempengaruhi hubungan kerjasama tim. Tentu akan mempengaruhi produktifitas kerja. Makanya, sering kali perpisahan diikuti dengan keputusan pindah kerja salah satu pasangan.

Apabila kamu sudah yakin untuk terus berpacaran dengannya dan tidak melanggar norma-norma yang ada (tidak berpacaran dengan orang yang sudah menikah), maka kamu harus memperhatikan hal di bawah ini:

1. Tempatkan diri
Kamu harus bisa membedakan kapan harus menjadi pacar dan kapan harus menjadi rekan kerja atau teman tugas kelompok. Jangan sampai lingkungan kerja kelompok atau lingkungan kerja kamu menjadi canggung gara-gara kamu malah asyik berpacaran.

2. Pandangan orang lain
Meskipun kamu menjadikan pacar kamu sebagai motivasi dan semangat untuk masuk ke kantor atau bekerja dan menjadikannya motivasi untuk menyelesaikan semua pekerjaan kamu sebelum pukul 5 agar bisa berpacaran dengannya setelahnya, namun tetap pikirkan juga bahwa orang lain belum tentu berpikir begitu. Bisa saja orang lain berpikir bahwa kamu hanya mau masuk ke kantor untuk melihat dan bertemu dengannya saja, bahkan menilai kamu bekerja secara asal-asalan agar bisa pulang cepat dan segera berpacaran dengannya.

3. Konsentrasi
Apabila hubungan kalian sedang hangat-hangatnya, bisakah kamu tetap fokus dan konsentrasi bekerja? Terutama saat dia berada di dekatmu. Sebaliknya, jika kalian sedang bertengkar, apakah kamu masih bisa untuk tetap fokus dan duduk tenang tanpa harus berpikiran untuk marah dan memakinya?

4. Baper
Ingat, teman kerja dia gak Cuma kamu. Kamu bisa gak mengatasi perasaan kamu jika dia harus bekerjasama dengan lawan jenis sedangkan kamu tidak terlibat di dalamnya?

5. Memberikan kritik
Mirip seperti point pertama. Kamu harus bisa menegaskan kapan kamu menjadi kekasihnya dan kapan kamu menjadi rekan kerjanya. Kamu harus bisa memberikan kritik dan sebaliknya kamu harus bisa menerima kritik. Tapi, salah-salah nanti malah berdampak ke hubungan percintaan kalian.

6. Iri terhadap prestasi pasangan
Jika kalian bekerja di dalam satu lingkungan kerja yang sama dan dalam satu tim yang sama. Lalu pasangan kalian mendapatkan prestasi yang gemilang atau mendapatkan promosi, bisa kah kalian menahan rasa iri terhadap pasangan? Ataukah kalian bisa tetap mendukung pasangan dengan sepenuh tanpa ada rasa persaingan?
Mencintai bukanlah hal yang salah. Namun, cara kita dalam mencintai seseorang bisa saja salah. Jika kamu merasa belum bisa yakin untuk bisa berkomitmen dan berpacaran dengan rekan satu kerja. Maka jangan mencoba dulu untuk melakukannya. Salah-salah, tidak hanya hubungan kamu dan dia saja yang kandas, tapi lingkungan kerja dan karir kamu juga ikut kandas.

Sumber referensi:
http://ajinatha.blogspot.co.id/2012/04/tips-mengatasi-hubungan-cinta-dengan.html

http://www.hipwee.com/sukses/daripada-ribet-urusannya-pertimbangkan-8-hal-ini-sebelum-terlibat-cinlok-di-tempat-kerja/

Comments