Hi, terima kasih sudah datang ke blog ini. Thread ini adalah lanjutan dari yang pertama, yaitu faktor penentu jumlah atau nilai upah dari sisi perusahaan. Pada thread ini akan dibahas apa saja faktor penentu jumlah upah yang akan diterima dari sisi kita sebagai karyawan. Faktornya antara lain:
- Lulusan mana
Banyak yang bilang, bahwa tidak penting lulusan dari kampus mana, yang penting kita. Ada benar, dan ada tidaknya. Mengapa begitu?
Setiap kampus memiliki “budaya” yang unik. Ada yang meminta muridnya untuk belajar sendiri, ada yang mengajarkan kepada muridnya. Ada yang memberi pelajaran lebih, ada yang memberi pelajaran hanya sebatas kurikulum saja. makanya, campus does matter. Gak berarti kok kalo jakun (jaket kuning, baca: UI) itu bagus. Gak berarti juga kampus cicak cicak di dinding itu jelek. Tergantung dari jurusannya juga. Biasanya HRD sudah “menandai” kampus dan jurusannya. Seperti jika ingin mencari lulusan IT, pasti yang terlintas di benak adalah: Binus. Benar, UI juga ada IT, tetapi yang terlintas adalah Binus. Padahal jika kita mencari kedokteran, yang terlintas pertama adalah: UI. Tetapi kenapa untuk IT lebih dicari Binus?
Pertama, karena Binus mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh UI, seperti dari kurikulumnya. Seperti yang kita kebanyakan mungkin tahu, Binus berawal dari kursus yang berawal dari garasi, kemudian berkembang menjadi akademi, Sekolah TInggi, hingga menjadi Universitas. Hal itu tidak diraih hanya dengan memejamkan mata, namun juga dengan usaha yang besar. Oleh karena itu Binus tidak semata-mata mengajarkan kurikulum saja, tapi juga mental untuk berkembang di dunia nanti agar bisa berkembang layaknya Binus.
Kedua, mental yang ditanamkan di benak lulusannya berbeda. Hal ini secara tidak langsung diajarkan dari kampus ke mahasiswanya lewat dosen, lingkungan belajar, sistem yang diterapkan oleh kampus, dll. Maka mungkin lulusan IT dari Binus lebih siap dan tahan banting dari UI. Seperti poin yang pertama, Binus mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh Universitas lain. Mungkin mahasiswa itu sendiri tidak akan begitu menyadari, bahkan jika ditanya, bagaimana rasanya kuliah di Binus, mungkin jawabannya, “Biasa aja ah.” Tetapi jika Ia diminta untuk belajar IT di kampus cicak di dinding, kemudian kembali ke Binus, baru ia akan merasa, “Bagusan di Binus dong.”
Ketiga, jaringan alumni. Hal lain yang saya pelajari adalah jaringan alumni. Saya baru menyadari bahwa kuliah di UI biasa saja, materinya tidak terlalu dalam, harus belajar dan menggali sendiri, karena tidak terlalu banyak yang diajarkan. Berbeda dengan di YAI atau di Binus yang lebih banyak menyuapi dan memberikan hint untuk belajar dari sini dan situ yang membuat kita lebih mampu dan ahli dari lulusan UI. Namun, jaringan alumni di UI sangat kuat. Sehingga ketika ada lowongan perusahaan di tempat ia bekerja, ia akan kembali kepada almamaternya, ia akan mengajak adik-adiknya untuk bekerja di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Ia juga mungkin akan mendahulukan adik-adiknya dari orang lain ketika bekerja (iya, faktor subjektifitas masih sedikit berlaku). Hal ini berbeda dengan kampus lainnya yang tidak akan kembali kepada almamaternya sekedar untuk memberikan info lowongan pekerjaan, atau kembali jika ia Sudah sukses kepada almamaternya. Kembali di sini dalam arti kembali untuk memberikan sharing dan masukan tentang dunia kerja, atau memberikan donasi kepada kampus, atau memberikan tenaga untuk kegiatan yang lainnya.
- Pengalaman kerja/organisasi
Pengalaman organisasi menjadi nilai awal bagi calon pekerja yang belum pernah bekerja dimana pun. Dengan berorganisasi, biasanya ia lebih “luwes” untuk bekerja daripada yang belum pernah atau jarang ikut berorganisasi. Ia juga lebih mengerti tentang struktural, atau hirarki, atau tingkatan dalam pekerjaan. Ia juga diharapkan lebih bisa bekerjasama dengan kelompok, dll.
Pengalaman kerja paruh waktu atau magang juga menjadi nilai tambahan lebih. Lagi-lagi bukan promosi, Binus menerapkan sistem belajar 3+1, dimana ia 3 tahun atau 6 semester belajar di kampus, dan 1 tahun atau 2 semester lagi magang di perusahaan. Sehingga para lulusannya lebih siap untuk bekerja, karena ia tidak hanya mendapatkan ilmu, namun juga langsung menerapkan ilmunya tersebut di dunia kerja.
Nilai-nilai ini akan sangat berharga bagi perusahaan, karena ia tidak perlu membuang waktu lagi untuk training atau mengajarkan, karena waktu pengajaran mungkin hanya sedikit dan tidak sebanyak atau se-lama orang yang belum memiliki pengalman sama sekali. Apalagi bagi perusahaan yang “cepat” pasti tidak memiliki waktu banyak untuk mengajarkan, hanya beberapa kali mengajarkan, menuntut kita sudah harus bisa dan mahir.
- Kemampuan yang dimiliki
Terlepas dari dukungan dari kampus atau almamater, kemampuan setiap orang berbeda. Mungkin sama-sama lulusan IT, tetapi ada yang lebih ahli atau sudah mahir untuk melakukan web code, bahkan ia bisa memperbaiki bug hanya dalam waktu singkat, ada juga yang memerlukan waktu berhari-hari. Kemampuan tersebut menjadi nilai tambah bagi perusahaan untuk memberikan gaji lebih kepada calon karyawannya.
- Bagaimana cara kita bernegosiasi
Terlepas dari itu semua, jika kita sudah memiliki pengalaman, terbiasa atau mahir dalam suatu hal, namun tidak pandai dalam bernegosiasi, semuanya akan luntur. Oleh karena itu ada baiknya kita saling sharing atau belajar dari internet tentang bagaimana lolos interview, atau guideline dalam melakukan interview. Bukannya cara cheating di psikotest.
Kembali kepada pertanyaan semula, jadi, berapa Gaji yang pantas untuk kita tulis di CV atau ketika diminta oleh HRD?
Mungkin bisa lihat contekan dari job planet. Kita beruntung sekarang udah aja job planet. Ini dia contekannya:
Untuk nama perusahannya akan di blur, tapi kita bisa lihat contoh gajinya ya.
Ada berapa jenis gaji yang ditawarkan, kita juga bisa lihat contekan berapa gaji di sana, apakah sesuai dengan “budget” dan ekspektasi kita.
Jadi, udah gak bingung kan berapa jumlah gaji yang akan kita tulis di CV atau ketika ditanyakan oleh pihak HRD?

Comments
Post a Comment